Memilih tangandiatas (republika)

Memilih Tangan di Atas

Ini komunitas yang solid. para wirausahawan ini membentuk komunitas Tangan di Atas TDA). Ajang komunikasi menggunakan milis. Semua persoalan bisnis dibahas, lalu dicarikan solusinya. Solusi yang ditawarkan seringkali bukan berupa wacana, tetapi action nyata. Pelatihan membuat webstore (toko di internet), masalah akuntansi, dan lainnya, pun digelar untuk peserta milis. Hasilnya? Komunitas milis ini mampu mencetak enterpreneur-enterpreneur baru dalam waktu sekejap.

Tak keliru Ryaad Kusuma merapat ke TDA. Dari komunitas inilah Ryaad menemukan bisnis online-nya. Suatu saat Ryaad Kusuma membaca e-mail Hadi Kuntoro di milis TDA soal usaha jilbabnya di Bekasi. Ia tertarik. ''Omzetnya luar biasa,'' kata dia beralasan. Tak lama, ia sudah meluncur ke toko jilbab Rabbani milik Hadi. Pada pertengahan Juli 2006, dengan modal Rp 3 juta, Ryaad pun sudah memulai usaha baru. Barangnya diperoleh dari agen Rabbani di Bekasi. Jalur distribusi pun ia peroleh lewat sharing informasi di milis.

Saat ini Ryaad sudah punya sebuah kios busana muslimah di bilangan Plaza Cibubur, Cibubur. Pada November lalu, ia mulai berjualan via internet. Pelanggannya tersebar di Bontang, Kaltim, hingga Sumbawa, NTB. Besar omzet? ''Lumayan. Saat Lebaran, apalagi,'' tutur Ryaad yang pegawai swasta di kawasan industri Cikarang itu.

Lewat milis, mereka bahu-membahu. Sesuai namanya --tangan di atas-- komunitas ini memiliki visi: gemar memberi kepada sesamanya. Lewat komunitas ini, para pengusaha yang lebih mapan memberi solusi kepada para pemula atau yang belum berpengalaman sekali.

''Kita ingin menciptakan pengusaha-pengusaha baru. Menumbuhkan semangat berwirausaha adalah solusi konkret permasalahan ekonomi bangsa,'' kata Badroni Yuzirman. Karenanya, istilah TDA seringkali dipelesetkan menjadi Take Double Action. TDA menghindari banyak diskusi dan perdebatan yang tidak produktif. Solusi, kata dia. harus dengan aksi nyata.

Anria semula mengaku bingung mencari jenis bisnis. Lewat milis TDA, ia mulai terbuka mata. Sempat bingung cari-cari barang, Anria memperolehnya berkat cawe-cawe di internet ini. Bukan cuma peluang dan relasi bisnis, Anria juga memperoleh pasokan motivasi dari tulisan-tulisan di milis.

''Kita menumbuhkan suasana saling mendukung. Dengan bersama-sama segalanya akan lebih ringan,'' kata Badroni. ''Dengan sharing di internet mengenai problem kita, kita seringkali disadarkan bahwa bukan kita saja yang dilanda problem tersebut. Ada orang lain. Ini akan menguatkan kita. Apalagi kalau kita cari solusinya bersama-sama.'' tambah Ryaad. imy

www.republika.co.id

Komentar