Majalah Pengusaha Mimpikah

Chiaat ! Jurus Tri Memasarkan Seragam Beladiri
Wednesday, 09 May 2007

Image

Bermula dari hobi beladirinya Tri Muriana melihat celah untuk memproduksi pakaian seragam beladiri yang berkualitas

Sukatna

Kesibukan sebagai karyawan sebuah perusahaan elektronik di Batam, tak membuat Tri Muriana Budianto meninggalkan hobi beladirinya. Sehingga di sela-sela kerjanya ia masih menyempatkan diri untuk menjadi pelatih beladiri Pencak Silat Tapak Suci.
“Pada saat menjadi karyawan tersebut, saya memulai berpikir untuk mendirikan usaha sendiri. Maka ketika masa kontrak dua tahun selesai, saya memutuskan untuk tidak meneruskan tawaran perpanjangan kontrak,” ujar alumnus Teknik Elektro Universitas Ahmad Dahlan ini.
Sekembalinya ke Yogyakarta, Tri jauh lebih aktif di beladiri lagi sambil mencari peluang untuk memulai usahanya. Pada saat itu terlintas di benaknya untuk memproduksi seragam beladiri, suatu bisnis yang masih terkait dengan hobinya. “Memang sebelumnya saya sering mendapat pesanan seragam beladiri. Namun pada waktu itu pesanan tersebut saya lempar ke penjahit. Sepulang dari Batam saya melihat ini sebagai sebuah peluang. Sehingga saya memproduksi sendiri seragam beladiri tersebut,” ujarnya.

Dengan merekrut beberapa penjahit, Tri mulai memproduksi seragam baju beladiri. Agar produknya bisa diterima pasar, ia mulai mempelajari kelebihan dan kekurangan seragam beladiri yang lebih dulu berada di pasaran.
“Seragam beladiri yang saya produksi kainnya lebih tebal jika dibandingkan dengan seragam sejenis yang ada di pasaran. Selain itu harganya lebih kompetitif karena mata rantai distribusinya pendek. Biasanya para pelatih langsung memesan ke saya sehingga harganya jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan harga seragam yang dijual di toko-toko,” ungkapnya.

Keunggulan lainnya, sebut Tri, ukuran seragam lebih pas. Ukuran besar suatu seragam beladiri biasanya sama, namun ukuran panjangnya inilah yang harus diperhatikan. “Untuk menjahit seragam beladiri itu diperlukan keahlian khusus, sehingga tidak semua penjahit bisa melakukannya. Oleh karena itu penjahit saya memiliki spesialisasi menjahit seragam beladiri,” tuturnya.
Dari sisi model sendiri, seragam beladiri hampir-hampir tidak mengalami perubahan yang revolusioner sehingga Tri tidak perlu merekrut desainer yang handal. Namun dari masing-masing perguruan beladiri biasanya memiliki desain yang khas.

 Menurut Tri, pasar seragam beladiri ini masih sangat prospektif. Karena sejumlah sekolah, misalnya Muhammadiyah memasukkan beladiri Tapak Suci ke dalam kurikulumnya, sehingga menjelang tahun ajaran baru pesanan seragam beladiri meningkat pesat. “Tak jarang menjelang tahun ajaran baru saya kewalahan menyelesaikan pesanan sehingga sering saya minta tolong ke teman yang juga mempunyai kemampuan menjahit baju beladiri,” sebut pemilik seragam beladiri Segu ini. Untuk memperluas dan mendongkrak omset penjualan, Tri juga memanfaatkan kejuaraan sebagai ajang promosi. Hal ini terbukti ampuh. Dalam ajang kejuaraan nasional tak jarang ia mendapatkan pesanan dari sejumlah daerah, misalnya dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan tentu saja dari kota-kota di Pulau Jawa. “Pemesanan seragam biasanya dikoordinir oleh pelatih sehingga saya banyak menjalin hubungan dengan para pelatih,” ujar Tri seraya mengimbuhkan saat ini ia memiliki workshop di Ngentak, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.
Untuk saat ini, Tri mengaku bisa menjual seragam beladiri 20 potong per hari atau 600 potong per bulan. Meskipun angka penjualannya masih relatif kecil, namun Tri mengaku bisnis ini sudah bisa menopang kehidupan keluarga dan karyawannya. Segmen dari seragam beladiri ini memang sangat terbatas, sehingga menurut Tri, omsetnya tidak bisa didongkrak dengan serta merta.

Meski demikian, Tri mematok target bisa meningkatkan penjualannya sampai 600 potong per hari. Oleh karena itu secara intensif ia banyak melakukan pendekatan ke pelatih-pelatih dari berbagai perguruan. Pemasaran selama ini banyak menganut word of mouth dari para pelatih. “Karena pasarnya sangat terbatas saya hanya berpromosi dari mulut ke mulut saja,” terang anggota Tangan Di Atas (TDA) ini. Tri juga berkeinginan melakukan ekspansi. Tetapi masih tetap di pakaian beladiri. “Saya belum berpikiran untuk melakukan ekspansi di luar seragam beladiri, karena kebutuhan yang ada pun sebenarnya masih belum bisa terpenuhi,” sebutnya. Sedangkan kemungkinan untuk melakukan ekspor, Tri mengku masih sulit menembus. Ini disebabkan karena beladiri di luar negeri berbeda dengan yang ada di Indonesia, baik dari jenis beladiri maupun standar seragamnya.
“Tidak usah ekspor kalau saya bisa menggarap pasar dalam negeri saja prospeknya sangat cerah,” demikian Tri.

Komentar