Januari 18, 2008

Jangan Mengeluh, Pertolongan Allah Pasti Datang!



Dalam menjalani hidup yang digariskan Allah Swt mungkin ada getir
yang kita rasakan. Seperti hidup yang kadang terasa manis, maka
kegetiran menjadi sebuah keniscayaan. Hal yang terbaik adalah
senantiasa ridha atas ketetapanNya, dan berbuat yang terbaik untuk
mendapatkan keridhaanNya. Bukan mengeluh, sebab hanya mereka yang tak
beriman yang senantiasa putus harapan.
Seperti kaum muslimin yang menjalani perang Khandaq dalam ayat 214
surat Al Baqarah di muka. Dalam kondisi paling kritis pun, seorang
muslim tidak boleh memiliki prasangka buruk terhadap Allah, apalagi
mengeluh terhadap kondisi yang berlaku. Ketahuilah pertolongan Allah
sungguh amat dekat!
Sore itu Rabu, tanggal 27 Juni 2007 ada sebuah sms masuk ke hp ustadz
Burhan. Sms itu berasal dari Abdul Majid rekannya dan berbunyi: NANTI
MALAM SAYA MAU KE RUMAH BA'DA MAGRIB, BOLEH GA?
Sang ustadz menjawab: BOLEH, TAPI JANGAN BA'DA MAGRIB. ABIS ISYA AJA
YA.... DITUNGGU!
Abdul Majid membalas lagi: JGN DITUNGGU, KARENA MAU "NGEREPOTIN".
ANGGAP AJA DATENG MENDADAK!
Ustadz Burhan tidak membalas sms terakhir dan benar saja begitu
shalat Isya telah didirikan, Abdul Majid pun datang ke rumah Ustadz.
Abdul Majid datang ke rumah Ustadz Burhan dengan tampang kusut.
Sepertinya dia lagi banyak masalah. Biasa orang sekarang, Hidup sarat
dengan masalah! Saking pusing dengan masalahnya ia langsung berkata
kepada ustadz dan masuk rumahnya tanpa salam: "Bang Haji, tolongin
saya dong pinjemin duit barang tiga juta setengah... Saya lagi pusing
nih!"
"Emangnya ada apa Majid?" sang ustadz bertanya balik.
Setahu ustadz Burhan, Abdul Majid adalah anak yang baik. Dia baru
berumur 27 tahun dan belum menikah. Meski demikian, Abdul Majid mau
memikirkan nasib anak-anak yatim di kampungnya, dan ia pun mendirikan
sekolah gratis untuk mereka. Abdul Majid di kampungnya dikenal
sebagai tuan guru.
"Begini... saya pernah janji sama anak-anak di sekolah bahwa kalau
mereka lulus ujian akhir tahun ini saya mau ajak mereka jalan-jalan
ke Jakarta. Semalam saya sudah lihat raport mereka semua.
Alhamdulillah mereka lulus! Tapi tiba-tiba saya terbayang janji saya
tempo hari. Malam tadi saya kalkulasi, keperluan jalan-jalan adalah
tiga setengah juta. Hari Jum'at raport dibagiin dan Sabtu saya mau
ajak mereka semua jalan-jalan.... Tolong dong bang haji, pinjemin
saya duit tiga setengah juta!"
Ustadz Burhan hanya tersenyum mendengar penuturan Abdul Majid. Tulus
sekali anak ini, gumamnya. Demi kepentingan anak-anak yatim sampai
sedemikian hebatnya ia memikirkan.
Sambil tersenyum dan menghibur Ustadz Burhan bilang kepada Abdul
Majid:
"Begini.... urusan tiga setengah juta gampang nyarinya. Asal elo dan
gua malam ini dan besok mau ngerjain tiga hal: 1) Tahajud malam ini.
2) Berdoa sungguh-sungguh sama Allah agar Dia mau kasih duit sejumlah
itu, dan 3) Punya duit berapa sekarang di kantong?"
Kalimat terakhir Ustadz Burhan mengagetkan Abdul Majid. Dengan
keheranan ia bertanya, "Ada sih 250 ribu..!"
"Boleh gak disedekahin 100 ribu?!" ustadz Burhan bertanya.
Sambil keheranan Abdul Majid bertanya, "Disedekahin ke Antum?"
"Nggak.... sedekahin aja kemana ente mau! Insya Allah kalo tiga hal
ini elo kerjain, Allah bakal ngedatengin uang yang kita perluin. Asal
kita yakin Allah bakal nolong!"
Pembicaraan antara dua hamba Allah pun terus berlangsung. Hingga
waktu menunjukkan lebih dari jam 9 malam. Ustadz Burhan pun menyuruh
Abdul Majid pulang.
Namun Abdul Majid belum mau berdiri dari kursi. Maka ustadz pun masuk
kamar. Sejurus kemudian dia membawa 5 lembar uang limapuluh ribuan.
Uang itu diberikan kepada Abdul Majid dan ia pun menghitungnya.
Abdul Majid mengira bahwa keperluannya sebesar tiga juta setengah
akan ditutupi oleh ustadz. Matanya berbinar saat melihat ustadz
membawa lembaran kertas berwarna biru itu. Kelima lembar uang itu
dihitungnya dihadapan ustadz. Usai menghitung Abdul Majid
berkata, "Kok Cuma dua ratus lima puluh ribu doang?" Ia bertanya
keheranan, mungkin jumlah yang ia dapati jauh dari harapan.
"Iya... itu cuma segitu doang. Mudah-mudahan itu jadi pancingan. Yang
penting jangan lupa tiga hal tadi. Insya Allah pasti akan ada
pertolongan!" Ustadz Burhan coba menegaskan.
Tapi Abdul Majid masih belum merasa yakin. Meski sudah diantar hingga
ke halaman oleh Ustadz Burhan, ia masih bertanya, "Emangnya bener
kalo saya kerjain 3 hal tadi, saya bisa dapat duit Jum'at pagi?"
Terlihat raut kebimbangan pada wajah Abdul Majid.
"Jangankan Jum'at pagi, besok pagi pun kalo Allah mau pasti uang itu
bisa kite dapetin. Yang penting yakin dan kerjain aja 3 hal itu!"
Ustadz Burhan sekali lagi meyakinkan.
Akhirnya Abdul Majid pun pulang bersama sepeda motornya.
Kamis siang pukul 13 tanggal 28 Juni 2007, Abdul Majid mengirim SMS
ke nomer ustadz Burhan. Sms itu berbunyi: ASSALAMU'ALAIKUM. SUDAH
SIANG GINI SAYA BELOM DAPET 3,5 JT. PADAHAL SUDAH SHODAQOH. ADA CARA
LAIN GA?
Dari sms itu, Ustadz Burhan tahu bahwa Abdul Majid sedang panik. Maka
beliau pun membalas: KALO UDAH SEDEKAH, SEKARANG DOA AJA YANG SUNGGUH-
SUNGGUH DAN BERTAWAKKAL. PASTI ALLAH TOLONG!
Lama tidak ada balasan sms dari Abdul Majid. Ustadz mengira bahwa
Abdul Majid sudah mendapat pertolongan atas masalahnya. Namun pukul
19:56 ada sebuah sms lagi dari Abdul Majid masuk ke hpnya:
ASTAGFIRULLAHAL'ADZIM. KIRA2 SAYA DOSA APA YA? DO'A SAYA GAK DI QOBUL.
Menerima sms itu Ustadz Burhan turut merasa panik. Besok pagi padahal
sudah hari Jum'at. Hal yang membuat panik sang ustadz adalah bahwa
dirinya telah menggiring Abdul Majid untuk masuk ke jalan Allah Swt
demi menyelesaikan permasalahannya. Ustadz Burhan khawatir, andai
saja pertolongan Allah itu tidak datang, pasti keyakinan Abdul Majid
kepada Allah Swt akan berkurang. Lama Ustadz Burhan berdoa kepada
Allah Swt agar dia berkenan memudahkan urusan Abdul Majid. Usai
hatinya tenang, sang ustadz membalas sms dengan menuliskan:
ALLAH GAK BUTA & TULI. DIA NGELIAT DAN NGEDENGER APA YANG KITA
PERLUIN. TERUS SAJA BERDOA DAN TAWAKKAL! SAYA JUGA BERDOA SEMOGA
URUSAN INI AKAN DPT PERTOLONGAN.
Abdul Majid tidak membalas sms. Ustadz Burhan mengira jangan-jangan
dia sudah tidak percaya lagi dengan kekuatan doa. Maka Ustadz Burhan
pun terus mendoakan Abdul Majid dan urusannya.
Hingga saatnya kira-kira pukul 9 pagi di hari Jum'at. Ustadz Burhan
mendengar suara dering masuk di hpnya. Namun karena beliau sedang
berada dalam kendaraan umum, maka hp itu tidak diangkatnya.
Tepat beberapa langkah setelah beliau turun dari metro mini yang
ditumpanginya, sekali lagi hpnya berdering. Beliau tidak sempat
melihat nomer penelpon pada display hp. Belum lagi beliau berucap
salam, terdengarlah suara yang begitu riang di seberang:
"Bang haji.... Alhamdulillah, Alhamdulillah! Ini Majid, saya sudah
dapat duit tiga setengah juta itu. Bukan pinjem lagi, kebetulan ada
orang ngasih... Alhamdulillah!"
Mendengar suara gembira itu, ustadz Burhan turut bersyukur. Beliau
pun bertanya, penasaran "Bagaimana ceritanya bisa dapet duit itu?"
"Entar saya datang ke rumah bang haji deh.... Biar bisa cerita
selengkapnya. Sekarang saya mau pulang ke kampung dulu, ngejar
pembagian raport. Mudah-mudahan besok pagi bisa bawa anak-anak main
ke Jakarta!"
Telepon itu pun ditutup dengan diakhiri suara nada riang Abdul Majid.
Kini tinggal, ustadz Burhan bertanya-tanya darimana Allah
mendatangkan pertolongan itu?
Belakangan beliau tahu dari seseorang bahwa bupati dimana Abdul Majid
berada memberikan bantuan kepada sekolahnya persis sebesar uang yang
dibutuhkan oleh Abdul Majid.
Sungguh pertolongan Allah akan datang, maka janganlah mengeluh!

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Razin disebutkan,

ÚÌÈ ÑÈß ãä ÞäæØ ÚÈÇÏå æ ÞÑÈ ÛíËå ÝíäÙÑ Åáíåã ÞÇäØíä ÝíÙá íÖÍß íÚáã Ãä
ÝÑÌåã ÞÑíÈ ÇáÍÏíË
"Tuhanmu merasa heran dengan keputus-asaan hambaNya padahal
pertolonganNya sudah amat dekat. Maka Allah memandangi hamba-hambaNya
yang berputus asa. Dia terus tertawa memandangi hamba-hambaNya
padahal Dia amat tahu bahwa pertolongannya begitu dekat." Tafsir
Ibnu Katsir.

Bobby Herwibowo
www.kuwais.multiply.com

Tidak ada komentar: